Showing posts with label T. Show all posts
Showing posts with label T. Show all posts

Wednesday, 13 November 2013

Tanda Pengenal Gerakan Pramuka



Pengantar
  • Gerakan Pramuka menggunakan berbagai macam Tanda Pengenal yang dikenakan pada pakaian seragam Pramuka, yang dapat digunakan untuk mengenal seorang Pramuka, Satuan, Kecakapan, Jabatan, Tanda-tanda Penghargaan yang dimilikinya, dan sebagainya.
  • Di samping itu Tanda Pengenal Gerakan Pramuka juga merupakan alat pendidikan untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka, yaitu memberi rangsangan guna meningkatkan kepribadiannya, dan memberi tanggungjawab yang berhubungan dengan hak pemakaian tanda pengenal itu.
  • Untuk ketertiban tanda pengenal tersebut, agar sesuai dengan maksud dan tujuan pemakaian serta fungsi tanda pengenal itu sendiri, maka perlu ">Keempat : Apabila ternyata dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, maka akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.
  • Tanda Pengenal Gerakan Pramuka diterapkan berdasarkan  Petunjuk Penyelenggaraan Tanda Pengenal yang dikeluarkan oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
  • Secara umum Petunjuk Penyelenggaraan dimaksud adalah dalam rangka memberi pedoman bagi Kwartir dan Satuan Pramuka dalam usaha meningkatkan prestasi seseorang dan penertiban pemakaian tanda pengenal Gerakan Pramuka.
  • Petunjuk Penyelenggaraan dimaksud juga dalam rangka mengatur pemakaian dan pemberian tanda pengenal itu, agar dilaksanakan secara benar dan tepat, oleh mereka yang berhak memberi atau memakainya.

Pengertian
Tanda Pengenal Gerakan Pramuka adalah tanda-tanda yang dikenakan pada pakaian seragam Pramuka, yang dapat menunjukkan diri seorang Pramuka, dan/atau Satuan, kemampuan, tanggungjawab, daerah asal, wilayah tugas, kecakapannya dan tanda penghargaan yang dimilikinya.

Jenis 
Tanpa Pengenal Gerakan Pramuka secara garis besar  meliputi :

  • Tanda Umum, yaitu tanda yang dipakai secara umum oleh semua anggota Gerakan Pramuka yang telah dilantik, putera maupun puteri, misalnya tanda tutup kepala, setangan leher, dan sebagainya.
  • Tanda Satuan, yaitu tanda yang dapat menunjukkan Satuan/Kwartir tertentu, tempat seorang Pramuka tergabung, dalam hal ini dimaksudkan mulai dari satuan terkecil di Gugusdepan sampai satuan tingkat nasional.
  • Tanda Jabatan, yaitu tanda yang menunjukkan jabatan dan tanggungjawab seorang dalam lingkungan Gerakan Pramuka.
  • Tanda Kecakapan, yaitu tanda yang menunjukkan kecakapan, keterampilan, ketangkasan, kemampuan, sikap dan usaha seorang Pramuka dalam bidang tertentu, sesuai dengan golongan usianya.
  • Tanda Penghargaan, yaitu tanda yang menunjukkan jasa atau penghargaan yang diberikan kepada seseorang, atas jasa, darma bakti, dan lain-lainnya, yang dianggap cukup bermutu dan berguna bagi Gerakan Pramuka, Gerakan Kepramukaan Sedunia, masyarakat, bangsa, negara, dan umat manusia.

Maksud Tanda Pengenal
Tanda Pengenal Gerakan Pramuka dimaksudkan untuk mengenal diri seorang Pramuka, satuan, tempat, wilayah, tugas, jabatan dan kecakapannya.

Tujuan Tanda Pengenal
Tanda Pengenal Gerakan Pramuka bertujuan sesuai dengan macam tanda pengenal tersbut, yaitu:
  • Mendorong seorang Pramuka untuk menggunakan haknya dan melaksanakan kewajibannya sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.
  • Memberi gairah dan semangat kepada seorang Pramuka untuk meningkatkan kemampuan, kecakapan, dan karyanya menurut ketentuan yang ada sesuai dengan golongan usianya.
  • Mendorong seorang Pramuka untuk bersungguh-sungguh melaksanakan isi janji dan ketentuan moral yang berbentuk Satya dan Darma Pramuka, serta mengamalkan pengetahuan dan kecakapannya sesuai tanda yang dipakainya.
  • Menanamkan rasa persaudaraan di kalangan anggota Gerakan Pramuka pada khususnya dan anggota Gerakan Kepramukaan Sedunia pada umumnya.
  • Menanamkan kesadaran ikut memiliki, memelihara dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri, satuan, organisasinya serta ikut mencapai tujuan atau cita-citanya.
  • Menanamkan kebanggaan dan percaya pada diri sendiri serta mengembangkan daya kepemimpinannya.

Fungsi Tanda Pengenal
Tanda Pengenal Gerakan Pramuka berfungsi sebagai:

  • Alat pendidikan untuk memberi dorongan, gairah dan semangat para Pramuka, agar mereka berusaha meningkatkan kemampuan, karya, pribadi dan kehormatannya.
  • Alat Pengenal seorang Pramuka, satuan, tingkat kecakapan, jabatan, tempat atau wilayah tugasnya.
  • Tanda pengakuan dan pengesahan atas keanggotaan, tingkat kecakapan serta pemberian tanggungjawab, hak dan kewajiban kepada seorang anggota Gerakan Pramuka.
  • Tanda penghargaan kepada seseorang atas prestasi dan tindakannya, agar yang bersangkutan selalu menjaga dan memelihara nama baik pribadi dan prganisasinya.
  • Tanda Pengenal Gerakan Pramuka tidak berfungsi sebagai: (a)) Tanda pangkat yang menunjukkan perbedaan martabat seseorang. (b)  Perhiasan.

    Kelompok Tanda Pengenal
    Berbagai macam Tanda Pengenal Gerakan Pramuka, dikelompokkan dalam lima kelompok, yaitu :
    • Tanda Umum
    • Tanda Satuan
    • Tanda Jabatan
    • Tanda Kecakapan
    • Tanda Penghargaan

    Macam-macam Tanda Umum
    Tanda Pengenal yang termasuk Tanda Umum, yaitu :
    • Tanda Tutup Kepala
    • Setangan Leher atau Pita Leher
    • Tanda Pelantikan
    • Tanda Harian
    • Tanda Kepramukaan Sedunia

    Macam-macam Tanda Satuan
    Tanda Pengenal yang termasuk Tanda Satuan, yaitu :
    • Tanda Barung, Tanda Regu, Tanda Sangga, dan Tanda Satuan terkecil lainnya.
    • Tanda Gugusdepan, Kwartir dan Majelis Pembimbing.
    • Tanda Krida dan Tanda Satuan Karya.
    • Lencana Daerah dan Tanda Wilayah.
    • Tanda Satuan Pramuka Luar Biasa.
    • Tanda Satuan lainnya.
    Macam-macam Tanda Jabatan
    Tanda Pengenal yang termasuk Tanda Jabatan, yaitu :

    • Tanda Pemimpin dan Wakil Pemimpin : Barung, Regu, Sangga, dan lain-lain.
    • Tanda Pembimpin dan Wakil Pemimpin Krida dan Satuan Karya.
    • Tanda Keanggotaan Dewan Kerja Penegak dan Pandega.
    • Tanda Pembina dan Pembantu Pembina : Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega, serta Tanda Pembina Gugusdepan.
    • Tanda Pelatih Pembina Pramuka
    • Tanda Andalan dan Pembantu Andalan
    • Tanda Jabatan lainnya.
    Macam-macam Tanda Kecakapan
    Tanda Pengenal yang termasuk Tanda Kecakapan, yaitu :

    Tanda Kecakapan Umum
    • Untuk Pramuka Siaga : Tingkat Mula, Bantu dan Tata
    • Untuk Pramuka Penggalang : Tingkat Ramu, Rakit, dan Terap
    • Untuk Pramuka Penegak : Tingkat Bantara dan Laksana
    • Untuk Pramuka Pandega : Tingkat Pandega
    • Untuk Pembina Pramuka : Tingkat Mahir Dasar dan Lanjutan.
    Tanda Kecakapan Khusus
    • Untuk Pramuka Siaga : Tidak ada tingkatan
    • Untuk Pramuka Penggalang : Tingkat Purwa, Madya, dan Utama
    • Untuk Pramuka Penegak : Tingkat Purwa, Madya, dan Utama
    • Untuk Pramuka Pandega : Tingkat Purwa, Madya, dan Utama
    • Untuk Instruktur : Muda dan Dewasa
    Untuk Pembina Pramuka :
    • Tingkat Dasar
    • Tingkat Lanjutan.

    Tanda Pramuka Garuda
    • Untuk Pramuka Siaga
    • Untuk Pramuka Penggalang
    • Untuk Pramuka Penegak
    • Untuk Pramuka Pandega

    Macam-macam Tanda Penghargaan 

    Tanda Penghargaan GerakanPramuka untuk peserta didik, yaitu :
    • Tanda Penghargaan (termasuk Tanda Ikut Serta Bakti Gotong Royong, Tanda Ikut Serta Kegiatan dan lain-lainnya).
    • Bintang Tahunan
    • Lencana Wiratama
    • Lencana Teladan
    Tanda Penghargaan Gerakan Pramuka untuk orang dewasa, yaitu :
    • Bintang Tahunan
    • Lencana Pancawarsa
    • Lencana Wiratama
    • Lencana Jasa :
    • Dharma Bakti
    • Melati
    • Tunas Kencana

    Tanda Penghargaan atau jasa dari badan di luag Gerakan Pramuka, misalnya dari :
    • Organisasi Kepramukaan maupun badan lainnya, di dalam atau di luar negeri sepanjang hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, serta peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia yang berlaku.
    • Pemerintah Negara Lain
    • Pemerintah Republik Indonesia.
    Bentuk, Ukuran, Warna dan Persyaratan
    Bentuk, ukuran, warna dan persyaratan untuk menerima Tanda Pengenal Gerakan Pramuka diatur dalam Petunjuk Penyelenggaraan tersendiri. (dapat juga dilihat entry terkait dalam ensiklopedia ini)

    Pemberian
    • Sesuai dengan pengertian, maksud, tujuan, dan fungsi Tanda Pengenal tersebut dalam Bab III di atas, maka Tanda Pengenal Gerakan Pramuka hanya dibenarkan untuk diberikan kepada dan dipakai oleh seorang Pramuka dan bikan anggota Gerakan Pramuka yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
    • Syarat-syarat yang dimaksud tersebut, diatur dalam Petunjuk Penyelenggaraan yang berkaitan dengan masing-masing Tanda Pengenal.
    • Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat seperti yang dimaksud di atas, dinyatakan tidak berhak dan tidak dibenarkan mengenakan Tanda Pengenal Gerakan Pramuka pada pakaian seragam Pramuka.
    Pemakaian
    • Hak atas pemakaian Tanda Pengenal Gerakan Pramuka selalu disertai dengan tanggungjawab dan kewajiban pemakainya untuk :  (a) Mnjaga nama baik dirinya, satuan, dan organisasi Gerakan Pramuka. (b) Berusaha memanfaatkan dan meningkatkan kemampuannya sesuai dengan makna tanda pengenal yang dipakainya.  (c) Berusaha mengamalkan Satya dan Darma Pramuka serta menunjukkan nilai dirinya sebagai seorang Pramuka.
    • Tanda Pengenal Gerakan Pramuka hanya dibenarkan dikenakan pada pakaian seragam Pramuka, dan tidak dibenarkan pada pakaian lainnya (nisalnya pada pakaian sekolah, pakaian seragam organisasi lain, dan sebagainya) kecuali Tanda Harian Gerakan Pramuka.
    • Penempatan Tanda Pengenal Gerakan Pramuka pada pakaian seragam Pramuka dengan rapi dan teratur sesuai dengan ketentuan yang tersebut dalam Petunjuk Penyelenggaraan.
    • Tanda Pengenal yang dapat dikenakan pada pakaian seragam Pramuka, adalah Tanda Pengenal yang sah, yaitu yang diatur dengan Petunjuk Penyelenggaraan yang berkaitan dengan petunjuk penyelenggaraan Tanda Pengenal Gerakan Pramuka ini.
    • Tanda-tanda lain yang tidak diatur, tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan isi Petunjuk Penyelenggaraan ini, tidak dibenarkan untuk dikenakan pada pakaian seragam Pramuka.
    • Tanda Pengenal yang habis masa berlakunya tidak dibenarkan untuk dikenakan pada pakaian seragam Pramuka.
    • Mereka yang karena sesuatu hal, tidak berhak lagi mengenakan salah satu Tanda Pengenal, tidak dibenarkan lagi mengenakan Tanda Pengenal tersebut.
    • Pemberian Tanda Pengenal Gerakan Pramuka dilakukan menurut ketentuan yang diatur dalam Petunjuk Penyelenggaraan yang bersangkutan dengan masing-masing tanda pengenal itu.
    • Pemakaian Tanda Jasa dan Tanda Penghargaan dari Negara lain, Gerakan Kepramukaan Negara lain/Sedunia, dan dari organisasi lainnya diatur oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
    • Tanda jasa dan penghargaan dari Pemerintah Negara Republik Indonesia digunakan pada pakaian seragam Pramuka sesuai dengan peraturan pemakaian tanda-tanda tersebut.

    Pengaturan Pengadaan dan Perubahan Tanda Pengenal
    • Pengaturan, pengadaan dan perubahan Tanda Pengenal Gerakan Pramuka adalah wewenang Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
    • Pengadaan Tanda Pengenal tersebut dapat dilimpahkan kepada Kwartir Daerah dan Kwartir Cabang, dengan ijin tertulis dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.


    Sumber :
    • LAMPIRAN I KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 055 TAHUN 1982 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN TANDA PENGENAL GERAKAN PRAMUKA

    Lihat entry/topik terkait :

    Friday, 12 July 2013

    Tent Making Made Easy (Cara Mudah Membuat & Mendirikan Tenda Pramuka)




    Tent Making Made Easy
    By H. J. Holden
    (Reprinted from Recreation. Apr. 1, 1911. by permission of the Editor.)

    The accompanying sketches show a few of the many different tents which may be made from any available piece of cloth or canvas. The material need not be cut, nor its usefulness for other purposes impaired, except that rings or tapes are attached at various points as indicated. For each tent the sketches show a front elevation, with a ground plan, or a side view; also a view of the material laid flat, with dotted lines to indicate where creases or folds will occur. Models may be made from stiff paper and will prove as interesting to the kindergartner in geometry as to the old campaigner in camping. In most of the tents a ring for suspension is fastened at the centre of one side. This may be supported by a pole or hung by means {165} of a rope from any convenient fastening; both methods are shown in the sketches. Guy ropes are required for a few of the different models, but most of them are pegged down to the ground.

    After making paper models, find a stack cover, a tarpaulin, a tent fly, an awning, or buy some wide cotton cloth, say 90-inch. All the shapes may be repeatedly made from the same piece of material, if the rings for changes are left attached. In Nos. 3, 4, 6, 7, 8, 9, 11, a portion of the canvas is not used and may be turned under to serve as sod-cloth, or rolled up out of the way. If your material is a large piece, more pegs and guy lines will be required than is indicated in the sketches. The suspension ring, 1-1/2 inches or 2 inches in diameter, should be well fastened, with sufficient reinforcement to prevent tearing out; 1-inch rings fastened with liberal lengths of tape are large enough for the pegs and guy lines. Also reinforce along the lines of the strain from peg to pole.

    Figure  1.
    A square of material hung by one corner, from any convenient support, in a manner to make a comfortable shelter; it will shed rain and reflect heat. This square makes a good fly or a good ground cloth for any of the tents.

    Figure 1. Tent from a square of canvas.
    7 x 7 sheet is ample for a one-man shelter; 9 x 9 will house two.

    Figure. 2.
    A rectangle equal to two squares. A shelter roomy and warm, with part of one side open toward the fire.


    Figure2. Rectangle tent

    Figure 3.
    Here the rectangle is folded to make a "lean-to" shelter, with the roof front suspended from a rope or from a horizontal pole by means of cords. The two corners not in use are folded under, making a partial ground cloth. A square open front is presented toward the camp fire.


    Figure. 3. Baker, or lean-to

    Figure. 4.
    Same in plan as No.3, but has a triangular front and only one point of suspension.




    Figure. 4. Same plan as No.3

    Figure 5.
    Uses all the cloth, has a triangular ground plan, a square front opening, plenty of head room at the back and requires two or more guy lines. This shelter resembles a "toque."


    Fig. 5. The toque tent

    Figure. 6.
    Square or "miner's" tent. Two corners are turned under. This tent is enclosed on all sides, with a door in front.


      
    Figure. 6. Miner's tent

    Figure 7
    Conical tent or "wigwam," entirely enclosed, with door in front. Two corners of the canvas are turned under.



    Figure 7. Conical tent, or wigwam

    Figure 8.
    Has a wall on one side and is called a "canoe tent" in some catalogues. It requires two or more guy lines and is shown with a pole support. The front has a triangular opening.


    Figure 8. So-called canoe tent. Requires three guy lines,
    and can be supported by a rope instead of a pole

     Figure 9.
    A combination of No. 8, with No. 1 in use as an awning or fly. This sketch shows both tent and fly suspended by means of a rope. The "awning" may be swung around to any angle.


    Figure 9. Canoe tent with fly

    Figure 10.
    Combination of Nos. 1 and 2; they may be fastened together by a coarse seam or tied with tapes. The ground plan is an equal-sided triangle, with a door opening on one side, as shown. There is no waste cloth.



    Figure 10. Combination of Nos. 1 and 2

    Figure  11.
    No. 10 changed to a conical shape and suspended as a canopy. The circular shape is secured by the use of small-size gas pipe or limber poles bent into a large hoop. Of course guy lines may be used, but would probably be in the way. Notice that a little more material for making a wall would transform the canopy into a "Sibley" tent.

    Figure 11. Sibley awning

    There are other shapes and combinations, but perhaps these sketches are enough in the line of suggestion.

    The diagram Fig. 12 shows a method for laying out, on your cloth, the location of all the rings to make the tents and shelters. No dimensions are given and none is required. The diagram is good for any size. Most of the fastenings are found on radial lines, which are spaced to divide a semi-circle into eight equal  angles, 22-1/2 degrees each; these intersect other construction lines and locate the necessary loops and rings. Figures are given at each ring which refer back to the sketch numbers.


    Figure 12. Showing how ten different tents can be made with but one piece of canvas

    Suppose the material at hand is the widest unbleached cotton cloth, 90 inches wide, 5 yards long, or 7-1/2 feet by 15 feet. The accompanying table will give the dimensions for the various shapes from Fig. 1 to Fig. 11.

    If in doubt about the location of rings on your canvas, suspend the tent by the centre ring and fasten the loops temporarily by means of safety pins, draw the tent into shape and shift the fastenings as required. The guy lines should have hooks or snaps at one end for ready attachment and removal; the other end should be provided with the usual slides for "take up." The edge of the cloth where the large ring for suspension is fastened should be bound with tape or have a double hem, for it is the edge of the door in most of the tents shown. 


    Sumber 
    Boy Scout Handbook 1911  at  www.gutenberg.org

    Friday, 31 May 2013

    Taksonomi Blomm : Alat Bantu Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan




    Tujuan Pendidikan Kepramukaan
    Tujuan Pendidikan Kepramukaan, sebagaimana tercantum dalam pasal 4  Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka (Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 203 tahun 209) adalah : terwujudnya kaum muda lndonesia yang dipersiapkan menjadi:
    • Manusia yang berwatak, berkepribadian, berakhlak mulia, tinggi kecerdasan dan keterampilannya serta sehat jasmaninya;
    • Warga Negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik lndonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
    Untuk mencapai tujan besar tersebut maka terdapat pula tujuan pendidikan untuk tiap satuan seperti tujuan pendidikan Pramuka Siaga, tujuan pendidikan Pramuka Penggalang, tujuan pendidikan Pramuka Penegak dan Pandega, tujuan pendidikan satuan karya, tujuan Dewan Kerja, dsb. Tujuan pendidikan di tiap satuan tersebut selanjutnya diterjemahkan dalam tujuan pembinaan atau latihan mingguan dan tujuan kegiatan. Dengan demikian tujuan pendidikan kepramukaan hanya bisa dicapai manakala tujuan pendidikan di tingkat satuan dan tujuan pendidikan ditiap latihan atau kegiatan juga tercapai.

    Banyak cara yang bisa dilakukan oleh para Pembina Pramuka dalam menyusun tujuan latihan mingguan atau tujuan kegiatan. Salah satu cara yang bisa dijadikan rujukan dalam penyusunan tujuan latihan adalah dengan menggunakan Taksonomi Blomm. 

    Taksonomi Blomm 
    Taksonomi adalah gambaran tingkatan atau klasifikasi perilaku manusia yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan sehingga dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik,  dari tidak terampil menjadi terampil.

    Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk merumuskan tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali dikenalkan oleh  Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam taksonomi ini  setiap tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali lebih rinci berdasarkan hirarkinya.

    Tujuan Pendidikan
    Berdasarkan taksonomi Bloom tujuan  pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
    • Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
    • Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
    • Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
    Terdapat pula beberapa istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan ketiga domian tersebut di atas, seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro,  denga sitilah  cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

    Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.


    Hirarki Taksonomi Bloom
    Hirarki atau  pemisahan domain ini hanya buatan untuk memudahkan merumuskan tujuan pendidikan dan haisl akhir pendidikannya yang diinginkan agar lebih fokus. Hal itu karena pada dasarnya “manusia merupakan suatu kebulatan yang tidak dapat dipecah-pecah sehingga segala tindakannya juga merupakan suatu  bulatan”.

    1. Domain Kognitif 
    Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian:  Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6) 
    • Pengetahuan (Knowledge) : Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk. 
    • Aplikasi (Application) : Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram. 
    • Analisis (Analysis) : Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.  
    • Sintesis (Synthesis) : Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.   
    • Evaluasi (Evaluation) : Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.

    2. Domain Afektif
    Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol, yang terdiri dari :
    • Penerimaan (Receiving/Attending) : Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
    • Tanggapan (Responding) : Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.  
    • Penghargaan (Valuing) : Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.  
    • Pengorganisasian (Organization) : Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten. 
    • Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex) : Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
       
    3. Domain Psikomotor
    Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi dibuat oleh ahli lain Simpson (1966) (Arikunto, 2009) dengan tetap mengacu pada apa yang telah dibuat Bloom
    • Persepsi (Perception) : Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
    • Kesiapan (Set) : Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.  
    • Guided Response (Respon Terpimpin) : Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba. 
    • Mekanisme (Mechanism) : Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap. 
    • Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response) : Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks. 
    • Penyesuaian (Adaptation) : Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
    • Penciptaan  (Origination) : Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

    Kata Kerja Operasional
    Kata Kerja Operasional adalah "kata-kata" yang dapat dijadikan sebagai alat bantu  untuk merumuskan tujuan pendidikan. Kata Kerja Operasional mencerminkan  perubahan perilaku yang diinginkan setelah peserta didik mengikuti latihan kepramukaan. Kata kerja operasional juga  dapat diukur sehingga dapat dijadikan sebagai alat evaluasi atau bahan observasi. (selengkapnya lihat, entri/topik : Kata Kerja Operasional alat Bantu Merumuskan Tujuan Latihan Kepramukaan)


    Lihat topik/Entru terkait :


    Sumber :
    ART Gerakan Pramuka (Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 203 tahun 209)



    Saturday, 23 March 2013

    Teknologi Tepat Guna Pramuka : Alat Pembasmi Nyamuk Sederhana




    Pengantar
    • Nyamuk disamping berdampak negatif terhadap kesehatan juga berdampak negatif terhadap kenyamanan kita dalam beraktivitas. Kegiatan di alam terbuka dan perkemahan seringkali terganggu oleh banyaknya nyamuk disekililing kita yang membahayakan kesehatan dan mengganggu kenyamanan. Sebenarnya solusi untuk mengatasi masalah nyamuk sangat banyak dari membeli obat nyamuk yang beredar di pasar, hingga menggunakan  TTGS (teknologi tepat guna sederhana) yang aman dan mudah untuk dibuat.
    • Berikut ini adalah contoh Teknologi Tepat Guna Sederhana alat pembasmi nyamuk yang bisa kita buat sendiri dan bisa kita praktekan sambil kita melaksanakan kegiatan kepramukaan di alam tebuka. 
    • Rajin mencoba dan berekspreminan adalah kunci untuk menguasai cara sederhana ini. 
    Bahan dan Alat yang Diperlukan
    •     Botol plastik bekas ukuran 1,5 liter.
    •     200 ml air
    •     50 gram gula merah
    •     1 gram ragi (beli di toko makanan kesehatan, warung, atau pasar)
    Cara Membuat
    • Potong botol plastik di tengah. Simpan bagian atas/mulut botol.
    • Campur gula merah dengan air panas. Biarkan hingga dingin dan kemudian tuangkan di separuh bagian potongan bawah botol.
    • Tambahkan ragi. Tidak perlu diaduk. Ini akan menghasilkan karbon-dioksida
    • Pasang/masukkan potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik seperti corong.
    • Bungkus botol dengan sesuatu yang berwarna hitam, kecuali bagian atas, dan diletakkan di beberapa sudut rumah Anda.
    • Dalam hitungan hari atau minggu akan terlihat nyamuk2 terperangkap ke dalam botol,
    Gambar Panduan Kerja





    Selamat Mencoba & Bereksperimen. Salam Pramuka


    Sumber :
    www.yusufandrian.com

     





    Saturday, 16 March 2013

    Teknologi Tepat Guna Pramuka : Keranjang Takakura untuk Pengomposan Limbah Rumah Tangga



     Pengantar
    • Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan problem lingkungan yang semakin lama semakin kompleks. Pada saat ini banyak sekali teknologi pengelolaan dan pemanfaatan sampah baik yang  bersifat teknologi tinggi maupun teknologi tepat guna. Banyak penemuan teknologi tepat guna pengelolaan sampah yang sederhana namun efektif yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar para anggota Gerakan Pramuka. Penemuan-penemuan tersebut sudah dibukukan dan bahkan tersebar luar melalui media on line. Salah satunya adalah apa yang disampaikan di bawah ini yaitu tentang  "Keranjang Takakura : Teknologi Tepat Guna untuk Pengomposan Limbah Rumah Tangga" yang diambil dari sumber on line  www.yusufandriana.com.
    • Sebagai bahan latihan pramuka materi ini dapat digunakan untuk mengembangkan kompetensi kognitif (pengembangan kecerdasan intelektual), kompetensi motorik (pengembangan ketrampilan/skill) dan kompetensi afektif (pengembangan kecerdasan emosional dan sosial). Nilai lebih materi ini sebagai materi pelatihan pramuka adalah ketika Kakak Pembina mampu menggunakan materi ini untuk mengembangkan kompetensi afektif peserta didik berupa pengembangan penghayatan dan penerapan nilai-nilai satya dan darma pramuka dalam kehidupan nyata.
     Skema Keranjang Takakura
    • Keranjang Takakura merupakan keranjang digunakan untuk  mengolah limbah rumah tangga (sisa sayuran, sisa makanan, kulit buah atau sampah organik lainnya) menjadi kompos. Proses pengomposan yang digunakan adalah sistem aerob, dimana mikroorganisme yang digunakan sebagai starter adalah mikroorganisme aerob. Komposter ini merupakan salah satu contoh teknologi tepat guna karena bahan-bahan yang digunakan mudah didapat dan mudah diaplikasikan.
    • Keranjang Takakura dinamakan seperti nama penemunya Koji Takakura, ahli kimia terapan di Himeji Institute of Technology Japan. Takakura melakukan penelitian mengenai mikoorganisme yang cocok digunakan untuk pengomposan sampah di Surabaya. Mikroorganisme aerob lokal inilah yang dikembangkan Takakura sebagai starter media keranjang takakura.

    •  Harga keranjang Takakura relatif murah, bahkan keranjang ini dapat dirakit sendiri oleh masyarakat. Bahan-bahan yang ada disekitar dapat digunakan sebagai bahan keranjang takakura.

    Bahan-bahan yang digunakan untuk merangkai keranjang Takakura adalah sebagai berikut :
    • Keranjang baju kotor dengan tutupnya sebanyak satu buah.  Harganya kurang lebih Rp 40.000
    • Jaring untuk penutup nasi (tersedia di tukang kelontong di pasar tradisional) dua buah @Rp 5.000
    • Kardus aqua (gratis atau beli kardus bekas Rp 1.500 di warung).
    • Benang dan jarum untuk menjahit bantal sekam.
    • Lakban lebar untuk kardus
    • Tanah pekarangan dua sekop untuk starter
    • Sekam 4 kantung (dapat dibeli beli di tukang tanaman) Rp 10.000
    • Kain penutup keranjang.


    Cara Membuat Keranjang Takakura
    • Lakbanlah kardus aqua tegak ke empat sisi bawahnya, sedangkan sisi atasnya dipotong sedikit supaya tingginya sesuai dengan tinggi keranjang.
    • Isilah kantung  jaring dengan sekam kemudian jahit sisi atasnya agar sekamnya tidak keluar.  Bentuk mirip bantal, buat bantal sekam ini sebanyak dua buah.
    • Masukkan kardus aqua kedalam keranjang. Atur sedemikian rupa sehingga kardus aqua dapat masuk ke keranjang dan pastikan bahwa keranjang bisa ditutup.  Masukkan satu buah bantal sekam didasar keranjang. Bantal sekam ini berfungsi menahan cairan sampah dan kompos agar tidak  merembes.
    • Tuangkan sekam sebanyak satu kantung kedalam keranjang.  Kemudian masukkan tanah satu sekop dari halaman rumah sebagai bio starter atau daptkan starter kompos dari toko-toko pertanian.  Kemudian tutuplah keranjang  dengan bantal sekam yang telah dibuat satu lagi.
    • Simpanlah satu kantung sekam dalam wadah dan simpan dekat keranjang ini.  Sekam ini untuk menutup sampah yang baru anda masukkan kedalam keranjang.  Sekam ini juga ditambahkan jika isi keranjang terlalu basah.
    • Keranjang takakura siap digunakan untuk menampung limbah organik rumah tangga Anda.
    Selamat berlatih. Salam Pramuka

    Lihat topik/entri terkait
    Teknologi Tepat Guna Sebagai Materi Kepramukaan

    Sumber 
    www.yusufandriana.com

    naskah ini telah dilengkapi dan ditulis ulang untuk keperluan "ensiklopediapramuka" (-aiw)
     
      

     


    Teknologi Tepat Guna sebagai Materi Kepramukaan




    Pengantar
    • Istilah Teknologi Tepat Guna (TTG) muncul sejalan dengan terjadinya  krisis minyak (BBM) pada  tahun 1973 dan sejalan dengan lahirnya pergerakan sadar lingkungan pada dasawarsa 1970-an. Disebut teknologi tepat guna karena hasil ciptaannya harus dapat  digunakan dengan  tepat  guna yaitu sesuai dengan kondisi  alam, sosial, ekonomi dan perilaku budaya setempat  dan dapat membantu  meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
    • Teknologi tepat guna  juga disebut sebagai  teknologi yang dikembangkan secara tradisional, sederhana, ramah lingkungan  dan  sejalan dengan  keetisan nilai-nilai   kebudayaan,  sosial,  politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.  Teknologi  ini  memang dibuat secara khusus untuk memenuhi kebutuhan  kelompok sosial atau masyarakat tertentu  dalam rangka   membantu terciptanya  kehidupan  yang lebih baik atau lebih sehat dan sejahtera.
    • Bentuk teknologi tepat guna  adalah teknologi yang  ramah lingkungan, ramah sosial budaya,  hemat  sumber daya, mudah dirawat, memberikan solusi "padat karya" daripada "padat modal" terhadap suatu permasalahan, berbiaya murah tetapi efektif untuk membantu menyejahterakan kehidupan masyarakat kelompok tertentu.  TTG berbeda  dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi,  banyak limbah, mencemari lingkungan, padat modal dan boros energi.

    Kriteria  Teknologi Tepat Guna
    • Apabila teknologi itu sebanyak mungkin mempergunakan sumber-sumber yang tersedia banyak di suatu tempat.
    • Apabila teknologi itu sesuai dengan keadaan ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
    • Apabila teknologi itu membantu memecahkan persoalan/ masalah yang sebenarnya dalam masyarakat, bukan teknologi yang hanya bersemayam dikepala perencananya.
    Ciri Teknologi Tepat Guna
    • Perbaikan teknologi tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung pertanian, industri, pengubah energi, transportasi, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di suatu tempat
    • Biaya investasi cukup rendah/ relatif murah.
    • Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara dan didukung oleh keterampilan setempat.
    • Masyarakat mengenal dan mampu mengatasi lingkungannya.
    • Cara pendayagunaan sumber-sumber setempat termasuk sumber alam, energi, bahan secara lebih baik dan optimal.
    • Alat mandiri masyarakat dan mengurangi ketergantungan kepada pihak luar (self-realiance motivated)
    Manfaat Teknologi Tepat Guna
    • TTG adalah penerapan teknologi yang mampu membawa kearah kehidupan yang lebih baik dari aspek kesehatan, lingkungan, kesejehtaraan, dll.  Usaha kearah perubahan yang lebih baik itu harus dirancang  secara “bottom up”  (dari bawah ke atas) sehingga seluruh masyarakat merasa bahwa pembaharuan adalah prakarsa mereka sendir. Dengan cara ini maka  minat dan semangat masyarakat  akan terus tumbuh terhadap sebuah produk TTG yang diterapkan di lingkungannya.

        • Seringkali terjadi kekeliruan dalam penerapan TTG di tengah masyarakat. Misalnya dengan  membawa pompa bambu, biogas, pengering dengan energi radiasi matahari sederhana kedesa, dianggap telah menerapkan teknologi tepat guna. Padahal pada kenyataannya masyarakat tidak membutuhkan hal itu sehingga kemudian tidak tumbuh minat dan kemauannya untuk terus menggunakan dan merawatnya dengan baik. 


          •  Membawa paket-paket teknologi tepat guna  kesebuah msayarakat tertentu tidak otomatis membantu bahkan dapat menjerumuskan, apabila tidak disertai pendidikan kepada masyarakat tentang apa manfaatnya,  bagaimana cara membuat dan memperbaiki alat tersebut,  bagaimana cara menjaga kelangsungannya, dsb.  Paling ideal penerapan teknologi tepat guna harus disertai dengan pendidikan, penumbuhan minat dan tanggungjawab serta adanya jaminan bahwa penerapannya akan membantu meningkatkan kesejahteraan hidup dalam jangka panjang.

          Jenis-jenis Teknologi Tepat Guna
          Jenis TTG sangat beragam seperti TTG di bidang pengelolaan dan peanfaatan lingkungan, TTK di bidang peningkatan produksi pertanian, TTG di bidang energi alternatif, TTG di bidang peningkatan produksi industri rumah tangga, TTG di bidang kewirausahaan, TTG  di bidang industri kreatif, dsb


          TTG Sebagai Materi Pendidikan Kepramukaan
          • Gerakan Pramuka sebagaimana tercantum  dalam SKK dan SKU baik secara implisit maupun eksplisit telah menjadikan teknologi tepat guna sebagai salah satu materi pendidikannya. Bahkan dalam SKU Penegak Bantara dan Laksana serta SKU Pandega dinyatakan secara eksplisit  keharusan menguasai salah satu jenis TTG untuk dinyatakan lulus sebagai Penegak Bantara, Penegak Laksana atau Pandega.
          • Apakah ada perbedaan mempelajari TTG di dalam Kepramukaan dan di Lembaga Pendidikan lain ? Jelas sekali ada perbedaan.  Dalam pendidikan kepramukaan para Pembina dituntut agar mampu mengarahkan para peserta didiknya belajar TTG dalam suasana kegembiraan, belajar sambil bekerja, belajar dalam kelompok, belajar berdasar pengalaman dan belajar di dalam terbuka.  Pada sisi lain, Para Pembina juga dituntut agar mampu memberikan arah belajar TTG  tidak hanya mengejar aspek peningkatan kompetensi kognitif (kecerdasan intelektual) dan kompetensi psikomorik (kecerdasan berkarya) namun juga kecerdasan afektif (kecerdasan emosioal).  Secara khusus  pengembangan aspek afektif tersebuy diharus agar para Pembina mampu menggunkan meteri pendidikan  TTG sebagai media  penghayatan dan penerapan Kode Kehormatan  Pramuka yang berupa satya dan darma pramuka.
           
          •  Para Pembina dapat memilih materi TTG untuk usia Siaga dan Penggalang dengan memanfaatkan penemuan TTG yang sudah ada yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari  para Siaga dan Penggalang  misalnya TTG di bidang pengelolaan sampah, TTG hemat energi, TTG industry kreatif, dsb.

          • Materi TTG untuk Pramuka Penegak dan Pandega mulai dapat diarahkan untuk mampu membuat TTG berdasar hasil penemuan orang lain atau bahkan para Penegak Pandega diarahkan untuk berusaha memenukan produk TTG yang baru.  TTG untuk Pramuka Penegak Pandega dapat diarahkan sebagai salah satu agenda pendukung  kompetensi Bina Maysarakat, dengan cara para Pramuka Panegak Pandega dilatih untuk mampu berkiprah di “masyarakat binaan”  melalui  penerapan TTG baik hasil ciptaan orang lain maupun ciptaan sendiri.

          Sumber Belajar
          • Pendidikan Kepramukan  merupakan pendidikan yang berbasis masyarakat atau “community education”. Dengan sifatsemacam ini Para Pembina sebenarnya dapat memanfaatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat sebagai sumber belajar. Konsep ini dapat membantu para Pembina Pramuka dalam mengembangkan TTG sebagai materi pendidikan kepramukaan, khusunya jika para Pembina memiliki keterbatasan dalam penguasaaan TTG.
          • Para Pembina dapat menjalin kerjasama dengan LSM, Lembaga Pemerintah (LIPI, BPPT & Sejumlah Kememtrian), Perguruan Tinggi, SMK,  BLK (Balai Latihan Kerja), SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), CSR Perusahaan Swasta  dan berbagai lembaga lain yang menaruh perhatian didalam pengembangan TTG untuk dijadikan mitra atau narasumber  belajar bagi para peserta didiknya.
          • Para Pramuka Penegak Pandega dapat pula mengajak lembaga atau sumber belajar lain dimaksud untuk bersama-sama mengembangkan TTG di “desa/wilayah  binaan” yang sedang dikembangkannya. Melalui kerjasama ini para Penegak Pandega akan memperoleh dukungan yang optimal  didalam menerapkan program-programnya diwilayah binaannya.
          Selamat Berkarya. Salam Pramuka


          Lihat topik/entri terkait :
          TTG Pengelolaan Sampah
          TTG Energi Alternatif
          TTG Kewirausahaan


          Sumber :
          http://m-haritsyah.blogspot.com,
          www.wikipedia.Com

          Dan dari berbagai sumber lainnya,  ditulis ulang untuk keperluan “ensiklopedia pramuka” (-aiw).

          Saturday, 9 March 2013

          Tepuk Pramuka sebagai Media Pendidikan




          Manfaat Tepuk Tangan

          • Tepuk tangan merupakan kegiatan yang sudah sangat identik dengan kepramukaan. Kegiatan yang tampaknya hanya bermain-main ini,  ternyata berdasar penilitian para ahli  dinyatakan bahwa tepuk tangan dapat bermanfaat untuk  mengembangkan dan meningkatkan kebutuhan emosional, fisiologis, sosiologis dan kognitif anak dan remaja  sebagai bekal untuk menuju  ke tahap pertumbuhan berikutnya.
          • Tepuk tangan dapat meningkatkan kesehatan, karena di dalam organ telapak  tangan terdapat  pusat syaraf dari semua bagian tubuh. Di telapak tangan  terdapat banyak anyak sekali syaraf penghubung kesemua bagian tubuh,  setiap syaraf membuat koordinasi sendiri dan menghasilkan efek baik bagi organ organ lainnya.  Oleh sebab itu apa bila kita bertepuk tangan maka semua bagian syaraf akan tertekan dan bereaksi sesuai dengan fungsinya,  semakin kita sering bertepuk tangan maka semakin lancar peredaran syaraf , atau dalam arti kata melatih kerja organ tersebut.
          • Bertepuk tangan yang baik bagi kesehatan adalah dengan  meletakan semua bagian (permukaan tangan yang satu dengan permukaan  tangan lainnya).  Kemudian tepuk secara berirama, dalam durasi yang cukup sehingga   permukaan tangan terasa  semakin panas dan membawa efek perubahan ke seluruh organ tubuh.
          • Dr. Idit Sulkin, anggota BGU Music Science Lab in the Department of the Arts, melakukan penelitian terhadap anak  satu, dua dan tiga di sekolah dasar  dengan membandingkan antara anak yang ikut  menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan dan yang tidak ikut. Hasil penelitian  menemukan bahwa anak-akan yang ikut kegiatan bernyanyi dan bertepuk tangan memiliki  keterampilan motorik yang lebih baik sehingga anak-anak itu dapat  menulis dengan lebih baik, tulisan yang rapi, dan hanya sedikit membuat kesalahan dalam mengeja dibandingan anak-anak yang tidak ikut. Tepuk tangan mampu mempengaruhi hormon kecerdasan di otak sehingga merangsang  otak untuk mempengaruhi perkembangan daerah otak yang lainnya.
          • Dalam penelitian yang sama ditemukan bahwa tepuk tangan mampu melatih integritas sosial dan sikap emosional anak-anak. Suasana riang gembira, kekompakan untuk menghasilkan irama yang indah, kebersamaan dan keceriaan ternyata telah melahirkan kesadaran akan pentingnya tanggungjawab, menjaga kebersamaan dan membantu anak-anak untuk menghayati dan merasakan keindahan.
          Tepuk Tangan dalam Kepramukaan
          • Tepuk Pramuka merupakan salah satu tepuk yang wajib dikuasai oleh para anggota pramuka. Tepuk Pramuka berfungsi untuk membangun kekompakan, mencairkan suasana, membangun persaudaraan bakti dan juga menunjukan kesiapan untuk melaksanakan kegiatan.
          • Didalam kegiatan kepramukaan banyak sekali jenis permainan tepuk tangan. Disamping jenis-jenis tepuk tangan yang lama juga terdapat tepuk tangan versi baru yang diciptakan oleh Kakak Pembina di berbagai daerah. Kreativitas menciptakan permainan tepuk tangan merupakan kreativitas yang tanpa batas.
          • Permainan tepuk tangan disamping digunakan membangun suasana gembira juga dapat digunakan untuk menyisipkan pesan-pesan tentang kebersihan, kerapihan, tanggungjawab, cinta alam dan orang tua, juga dapat digunakan untuk menyisipkan ilmu pengetahuan tentang binatang, alam, teknologi, dsb.

          Contoh Permainan Tepuk Tangan dalam Kepramukaan
           

          Tepuk Irama
          • Kakak Pembina menugaskan kelompok 1 untuk tepuk tunggal (prok),kelomok 2 tepuk ganda (prok-prok), kelompok 3 tepuk triple  (prok-prok-prok).
          • Kakak Pembina menyampaikan bahwa setiap kelompok yang ditunjuk oleh Kakak Pembina wajib bertepuk tangan sesuai dengan tugasnya.
          • Permainan dimulai, Kakak Pembina menunjuk secara acak misalnya : dari kelompok 3, ke kelompok 2, ke kelompok 3 lagi, ke kelompok 2 lagi, baru ke kelompok 1. Demikisn seterusnya makin cepat, makin bervariasi, makin berirama dan makin membutuhkan konsentrasi.
          • Suasana akan riang dan irama tepuk tangan akan sangat bervariatif.

          Tepuk kodok    

          Prok3x teot-teot, Prok3x teblung-teblung, Prok3x teot-teblung, teot-teblung, teot-teot teblung...dst.....

          Tepuk krupuk
          Prok3x puk-puk-puk, Prok3x galepuk, Prok3x sandal bapak, Prok3x di tukar krupuk.......

          Tepuk Sambal
          Prok3x giling-giling, Prok3x jilat-jilat, Prok3x uzhaah-uzhah......, Prok3x Pedas

          Tepuk Koboy
          Prok3x Ambil Pistol, Prok3x Isi pelor, Prok3x gedar-gedor, Prok3x mati konyol..........

          Tepuk bakso
          Prok 3X bulat-bulat, Prok 3X tambah sambel, Prok 3X enak seger, Prok 3X bakso.......

          Tepuk Ayam
          Prok 3X piyik-piyik, Prok 3X Petok-petok, Prok 3X Kukuruyuk.............

          Tepuk Ondel-ondel
          Prok 3X Ondel-ondel, Prok 3X badan besar, Prok X rambut jagung, Prok 3X kalau jalan, Prok 3X timplang timplung ....timplang timplung......

          Tepuk Badut
          Prok 3X mata besar, Prok 3X hidung tomat, Prok 3X perut gendut, Prok 3X goyang-goyang

          Tepuk Rapi
          Prok 3X Rapi Kanan, Prok 3X Rapi kiri, Prok 3X rapi semuanya, Yessssssss ......

          Tepuk Diam
          Prok 3X Bila aku, Prok 3X Sudah tepuk, Prok 3X maka aku, Prok 3X harus diam, One, two, three, four Yes .....


          Selamat berlatih dengan gembira. Salam Pramuka


          Sumber :
          health.detik.com
          kakadi.wordpress.com
          pramukapadiemas.blogspot.com


          **) ditulis ulang dan disesuaikan untuk keperluan ensklopediapramuka (-aiw)

          Saturday, 16 February 2013

          Tali temali : Jenis-jenis Simpul Anyam



          01.  Anyaman Pendek

          Gunanya : untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar.


          Gambar 1 :  
          Lekatkan kedua utas tali tersebut, sehingga pacung-pacung itu jalin-menjalin
          Gambar 2 :  
          Sisipkanlah pacung a ke bawah pacung b di atas pacung a


          Gambar 3 : 
          Sisipkan pacung b dengan melalui pacung c kebawah pacung a. setiap kali menganyam pacung talinya diputar sedikit-sedikit
          Gambar 4 :
           Setelah pacung yang satu selesai dianyam, maka pacung lainnya dianyam seperti yang tadi, dan seterusnya


          02. Anyaman Mata


          Gambar 1 :  
          Lihatlah Gb. 1 dan kita akan memulainya seperti Gb. 2
          Gambar 2 :  
          Sisipkanlah pacung b ke bawah salah satu anyaman tali itu dari kanan ke kiri


           
          Gambar 3 :  
          Sisipkanlah pacung c ke bawah anyaman di sebelah kirinya anyaman yang pertama
          Gambar 4 :  
          Kemudian putarlah tali tersebut, dan sisipkan pacung a ke bawah anyaman di samping anyaman yang kedua tadi, tetapi menyisipkannya harus dari kanan ke kiri
          Gambar 5 :  
          Selanjutnya anyamlah pacung-pacung itu dengan anyaman-anyaman dalam pintalan tali itu ganti berganti


          03. Anyaman Rantai

          Gunanya : untuk memendekkan tali.
          Gambar 1 :    
          Buatlah simpul sosok
          Gambar 2 :    
          Masukkanlah B ke dalam sosok D, lihat arah panah, demikianlah seterusnya


          Gambar 3 :    
          Lihatlah gambar, gambar tersebut merupakan rentetan simpul sosok dan membentuk rantai



          04. Anyaman Ujung

          Gunanya : supaya pacung-pacung itu tidak terlepas, sebelum ada tali rami untuk menutup ujung tali tersebut.


          Gambar 1 & 2 :
          Setelah pacung-pacung itu dibuat maka akan nampak seperti terlihat pada Gb. 1 dan Gb. 2 


           Gambar 3 & 4 :
          selanjutnya anyamkanlah pacung-pacung tersebutdengan pintalan dalam tali.



          Selamat berlatih. Salam Pramuka


          Saturday, 9 February 2013

          Tali temali : simpul tambat, simpul penarik, simpul tarik, simpul hidup, simpul laso, simpul gulung, simpul tiang berganda, simpul turki



          Simpul Tambat

            
          Guna : Menarik/menyerat balok
          Cara pembuatan :
          • Gambar 1 :  Perhatikan permulaan pembuatan tali ini
          • Gambar 2 : ujung b belitkan beberapa kali pada badan tali
          • Gambar 3 : Tariklah a dan kemudian simpul yang telah jadi ditekan agar kuat.
          Simpul Penarik
             

          Cara Pembuatan :
          Lihat gambar 1, pada bagian tali A masukkan kedalam lubang menurut arah panah, sehingga akhirnya akan tampak seperti pada gambar 2.

          Cara Penggunaan :
          Lihat gambar 3

          Simpul Tarik


          Kegunaan :
          • Mengikatkan tali pengikat binatang pada tiang/pohon dan mudah dilepaskan kembali.
          • Untuk turun ke jurang/lembah atau turun dari atas pohon.
          Cara Pembuatan :
          • Buat sosok dan dekatkan pada tiang/pohon yang akan digunakan untuk ikatan.
          • Lingkarkan salah satu bagian tali (bagian yang panjang) dan bentuklah ikatan sosok seperti pada gambar 2 dan 3
          • Tariklah sosok tali agar menjadi kuat.

          Simpul Hidup


          Kegunaan : untuk mengikatkan tali pada tiang dan mudah dilepaskan kembali.

          Simpul Laso

           
          Kegunaan :
          Menjerat Binatang Buas

          Cara Pembuatan :
          • Buat sosok seperti pada gambar 1
          • Ujung b dimasukan melalui sosok O sehingga menjadi laso yang kita kehendaki
          • Supaya membuatnya lebih cepat, maka  ujung b lebih baik diatruh pada sosok O dahulu sebelum simpul dibuat.
              
          Simpul Gulung



          Kegunaan :
          untuk diikatkan pada tali penarik agar orang lain dapat membantu menarik jika beban yang ditarik sangat berat dan tidak kuat ditarik oleh 1 orang.

          Simpul Tiang Berganda



          Kegunaan :
          Mengangkat orang dari bawah ke atas atau sebaliknya yaitu menurunkan orang dari atas ke bawah.

          Cara pembuatan :
          • Seperti membuat simpul tiang, hanya saja a dimasukkan dua kali ke dalam sosok, seperti terlihat pada gambar 1,2 dan 3
          • Gambar 4 : menunjukan gambar simpul tiang berganda yang telah selesai dibuat
          • Gambar 5 : cara penggunaan simpul tiang berganda untuk menaikan/menurunkan orang. 

          Simpul Turki




          Kegunaan :
          Simpul ini dapat digunakan untuk menghias sa[u lidi dan juga jika dilepas dapat juga digunakan untuk cincin setangan leher.

          Cara pembuatan :
          • Gambar 1 :Sisipkan  lingkaan sosok B ke bawah lingkaran sosok A sehingga berada di atasnya.
          • Gambar 2 : Masukan C kebawah B hingga dengan demikian akan tampak seperti yang terlihat pada gambar 2.
          • Gambar 3 : Akhirnya anyamkan C dan D menurut jalinan yang sudah dibuat, sehingga akan menjadi anyaman seperti tampak pada gambar 3. 

          Selamat berlatih. Salam Pramuka