Saturday 19 January 2013

Cerita untuk Pramuka Siaga : Batu Belah (Cerita Rakyat Aceh)




Latar Belakang
  • “Batu Belah” merupakan cerita rakyat  atau legenda yang tentu saja tidak bisa dipastikan kebenaranya. Sebagai sebua cerita rakyat, Batu Belah memiliki beragam versi bahkan terdapat pula versi  modern dengan modifikasi di sana-sini. Namun demikian inti dan moral ceritanya tidak berubah yaitu “pentingnya menjaga perasaan dan hormat kepada seorang ibu dalam situasi apapun”
  • Bukti fisik yang terkait dengan cerita ini sekarang memang bisa ditemui, yaitu Atu Belah yang merupakan sebuah batu besar terletak sekitar 35 km dari Takengon, Kabupaten Gayo, Propinsi Aceh. Konon,batu ini dapat menelan siapa saja yang bernyanyi dengan bahasa Gayo di dekat batu tersebut dengan cara batu itu akan terbelah dan menarik orang yang bernyanyi dengan bahasa Gayo tersebut. Masyarakat Gayo mempercayai   kisah tentang Atu Belah ini, namun demikian  sebagai  sebuah legenda tentu saja  tidak bisa dipastikan kebenarannya.
  • Sebagaimana umumnya, cerita rakyat tidak disusun dengan “target pendengar” secara khusus, misalnya khusus untuk pendengar anak-anak. Oleh sebab itu Para Pembina Siaga perlu melakukan beragam modifikasi alur, nuansa cerita dan pesan ketika memanfaatkan cerita “Batu Belah” ini. Ketidakhati-hatian membangun nuansa cerita akan dapat menimbulkan salah persepsi misalnya ayah adalah figure yang jahat, ibu yang mudah putus asa dan tega meninggalkan anaknya, dst.
Kandungan Nilai
  • Membangun kehidupan keluarga yang menyenangkan dan membahagiakan adalah tanggungjawab ayah, bunda dan juga putra-putrinya.
  • Sebagai anggota keluarga kita tidak boleh egois, ingin menang sendiri, serba ingin dilayani. Karena sikap semacm itu akan membikin orang lain bunda, yanda, kakak dan adik bersedih.
  • Menghormati dan membahagiakan Bunda adalah tugas setiap Siaga. Doa Bunda akan terkabul oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada para Siaga yang mampu membahagiakan Bundanya. 
  • Marah adalah pintu kekhilafan dan lahirnya tindakan yang fatal, oleh sebab itu “mengendalikan marah” adalah perintah agama yang harus dipatuhi oleh segenap umatnya.
Korelasi dengan Area Pengembangan Pramuka Siaga
  • Cerita Rakyat “Batu Belah” dapat dijadikan sebagai media belajar untuk  mengembangkan area kecerdasan  sosial  terutama dalam membangun kesadaran pentingnya menghargai, menghormati dan menjaga kehidupan harmonis dalam rumah tangga.
  • Dongen ini juga dapat dijadikan sebagai  media belajar mengembangkan kecerdasan emosional terutama dalam membangun kesadaran  bahwa membahagiakan orang lain adalah juga membahagiakan diri sendiri.
  • “Batu Belah” juga dapat dijadikan sebagai media  belajar mengembangkan kecerdasan intelektual terutama  dalam mengungkapkan pendapat, yaitu ketika para Siaga diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan tentang cerita ini.
  • Cerita Rakyat “Batu Belah” dapat dijadikan sebagai  media belajar mengembangkan area kecerdasan spiritual dengan cara mengaitkan bagaimana ajaran agama menghargai peran seorang Ibu dan Wanita dan juga dengan cara Para Pembina Siaga mengaitkan cerita ini dengan Kisah Para  Wanita yang dimuliakan oleh Tuhan dalam  Kitab Suci.
Materi Pendukung
 

Alat yang dibutuhkan  :
Sinopsis cerita, peta Indonesia, peta Propinsi Aceh, peta Kabupaten Gayo, foto Batu Belah, karikatur ayah, ibu dan anak, gambar  hutan, gambar belalang, sound system yang memadai, dsb.

Karakter        : 

Seorang ayah yang baik kemudian khilaf menjadi jahat, seorang Ibu yang lemah lembut, 2 orang anak yang penurut dan penyayang pada ayah bundanya

Teknik           : 
narasi, dramatisasi (dialog), gerak dan nyanyi.

Sound effect  : 
athmosphere hutan (suara burung-burung, angin semilir), suara ombak di pantai, suara anak tangisan, lagu-lagu daerah Aceh yang syahdu, dsb.
 

Persiapan : 
Para siaga sehabis upacara pembukaan bersama Kakak Pembina  duduk di bawah pohon atau ditemat lain yang nyaman. Kakak Pembina  mengajak bernyanyi dan bermain tepuk tangan untuk mencairkan suasana, kemudian  menyapa para siaga.
 

Pembina        :     “Siaagaaaa …..”                
Para Siaga     :      “Siaapppppp ……” 
Pembina        :       “Siaga yang super …. Indonesia adalah Negara yang luas terdiri dari banyak 

                              propinsi, coba yang tahu sebutkan satu persatu …:
Para Siaga     :     (menyebutkan propinsi satu persatu)

Pembina        :    Ya kali ini Kakak/Bunda akan mengajak para Siaga yang super untuk berkunjung 
                            ke propinsi Paling Barat. Propinsi Apa ?
Para Siaga     :    “Aceh ….”
Pembina        :    (Sambil menunjukan peta). “Para Siaga inilah peta propinsi Aceh yang beribukota

                           di Banda Aceh. Kita akan mengunjungi Kabupaten Gayo, disini letaknya (sambil 
                           menunjuk peta),  dari Gayo lah cerita Rakyat Batu Belah berasal yang akan 
                           Kakak/Bunda sampaikan sebenar lagi. Sudah siap …”
Para Siaga    :    “Siap Bunda ….”
                     
Pelaksanaan.
 

Opening :
(Pada saat Kakak Pembina/Bunda dengan para siaga sedang ramai  membicarakan tentang  Aceh dan Gayo, Pb Pembina/Bucik memutar instrumen musik aceh yang sangat merdu dan syahdu… musik terhenti ketika Kakak Pembina/Bunda mulai bercerita …).

Kakak Pembina/Bunda  
(Narasi dengan nada lembut dan membawa alat bantu gambar Karikatur Keluarga Petani) :

Narasi : "Para Siaga … dahulu di tanah Gayo,terdapat sebuah desa bernama Penarun.Di desa tersebut hiduplah keluarga petani yang sangat miskin. Mereka terdiri dari Ayah,Ibu,dan dua orang anak yang masih kecil, lucu dan penurut..."
 

Kakak Pembina/Bunda memberi jeda sejenak dan ilustrasi musik untuk membangun suasana cerita di benak para Siaga … 
 
Kakak Pembina/Bunda, melanjutkan ceritanya : 

(Narasi dan dialog)

Narasi : “Suatu hari di musim kemarau, sawah-swah  mengering tidak bisa ditanami padi,  musim paceklik tiba, persediaan makanan menipis.   Sang Ayah memutuskan pergi ke hutan  menangkap  belalang  untuk bahan makan di rumah …”


Ayah     :      “Istriku … persediaan makanan mulai menipis, sawah kita mongering, musim 

                     kemarau kali ini rasanya panjang sekali …”
Ibu        :     “Sabarlah suamiku … Tuhan tetap akan mencintai hamba-hamba Nya dan

                    memberinya rezeki manakala kita terus berusaha …”
Ayah    :      “Istriku …. doakan Ayah ya. Ayah akan ke hutan mencari belalang untuk bahan 

                    makanan kita, agar anak-anak kita tidak kelaparan dan bisa makan secukupnya …. 
                    Jaga anak-anak dengan baik ya ….“

Kakak Pembina/Bunda Jeda sejenak
(Musik Ilustrasi untuk membangun nuansa dan suasana cerita)
 

 Kakak Pembina/Bunda, melanjutkan ceritanya :
(
Narasi)



Narasi : “Setelah  pamit, dengan diiringi doa Istrinya, Sang Suami berjalan masuk kehutan mencari belalang. Belalang yang berhasil ditangkap ditaruhnya di dalam bumbung untuk disimpan dan dibawa pulang ke rumah. Jika mendapat banyak belalang maka sebagian belalang akan dimasak oleh istrinya untuk makanan hari itu dan yang sebagian lagi disimpan di lumbung untuk makanan esok harinya.  Sang Istri sangat pandai memasak Belalang sehingga rasanya enak, lezat dan bergizi ….”

Kakak Pembina/Bunda jeda sejenak …
(Musik ilustrasi untuk membangun suasana )

 
Bunda melanjutkan ceritanya …
(narasi, monolog dan dialog)



Narasi : “Pada suatu hari, ketika suaminya sedang mencari belalang di hutan, Sang  Sang ibu menjaga kedua anaknya di rumah dengan baik. Hari sudah mulai siang menjelang sore namun sang ayah belum pulang juga.Kedua anak  sudah menangis dan merengek kelaparan. Sang ibupun  mencari belalang yang tersedia di dapur.”Ya Tuhan,makanannya sudah habis,sedangkan anak-anakku sudah kelaparan. Aduh,bagaimana ini?”.Sang ibu kebingungan …. Sang ibu pun memutuskan  menyuruh anak tertuanya mengambil  belalang di lumbung.
Ibu        :    ”Anakku, ibu minta tolong, ambilkan belalang di lumbung untuk makanan kita. 
                   Ibu minta tolong ya nak”
Anak    :     ”Baiklah ibu, aku berangkat ke lumbung sekarang ya.”.
Ibu        :    “Baik anaku, hati-hati membuka lumbungnya, jangan lupa tutup pintunya, agar  

                   belalangnya tidak terbang dan tidak berhasil kau tangkap ..”
Anak     :    “Baik Ibu …”



Narasi : “Sang anak pun berangkat ke lumbung,lalu masuk kedalam lumbung.Sang anak asyik bermain-main sambil menagkap belalang yang terbang. Karena pintu lumbung belum ditutup, maka belalang-belalang tersebut terbang keluar dan  lepas semuanya..”
Monolog :  “Celaka!, aku belum menutup pintu lumbung. Belalang-belalangnya lepas semua. Pasti aku akan dimarahi ibu. Aduh,bagaimana ini? Kalau nanti ayah juga marah pada Ibu” pikir  sang anak ketakutan dan gelisah. 
Narasi :  “..Sang anak pun pulang dengan tangan hampa.Saat sang ibu melihat sang anak tidak membawa apa-apa, sang ibu bertanya

Ibu       :  “Loh … anaku, mengapa kamu tidak membawa belalang. Bukankah ibu menyuruh 

                 kamu untuk mengambil belalang di lumbung? Apa  yang terjadi nak… ,jelaskan,
                 apa yang terjadi!” (Tanya ibu dengan nada tinggi, penuh kekhawatiran)
Anak    :  "Sambil menangis si anak  menjelaskan ”Maafkau saya bu, saya tidak menuruti
                  nasehat Ibu untuk hati-hati. Ketika saya  mengambil belalang, saya   lupa menutup 
                  pintu lumbung … .belalang-belalang itu terbang dan lepas semua bu. Maafkan aku 
                  atas kecerobohanku, bu …”
 Ibu    :    “Ya nak,ibu memaafkan, lain kali kamu harus turuti nasehat ibu ya, agar engkau 

                 selamat dan hal apapun”.
 

Kakak Pembina/Bunda jeda sejenak,
(memberi kesempatan  para Siaga mengembangkan emajinasinya tentang bundanya masing-masing di rumah - untuk membangun suasana bisa diiring dengan musik ilustrasi)

Kakak Pembina/Bunda melanjutkan ceritanya …
(narasi & dialog)



Narasi : “Tak beberapa lama, sang ayahpun  pulang dari hutan, raut wajahnya tampak sedih dan lelah. Dengan merebahkan badan di lantai, sang ayah berkata kepada istrinya :

Ayah    :    ”Bu, maafkau aku hari ini saya  tidak dapat apa-apa, seharian berburu namun 
                   tidak menemukan belalang seekor pun. Saya lapar dan lelah, tolong masak saja 
                   Belalang yang ada di lumbung …”
Ibu    :       “Maafkan suamiku, belalang-belalang di lumbung lepas semua, tadi ketika aku akan 

                  mengambilnya aku lupa menutup pintu lumbung sehingga semua belalang terbang 
                  keluar …”  (jawab ibu dengan khawatir, sambil menutupi kesalahan putranya)
Ayah    :    “Apa ….. Persediaan makanan kita habis semua. Kamu ceroboh,  kamu tidak 

                  bisa bayangkan bagaimana susahnya aku mencari belalang di hutan!”  Sang ayah
                   marah sekali kemudian tanpa sadar, sang ayah memukul istrinya, hingga kesakitan.

Kakak Pembina/Bunda jeda sejenak,  

(berilah ruang  para Siaga mengembangkan emajinasinya tentang situasi dan membangun empati terhadap apa yang terjadi)
 
Kakak Pembina/Bunda , melanjutkan ceritanya :
(Narasi & Monolog)



Narasi : “Sang ibu pergi dari rumah dengan sakit hati. Ia tidak menyangka suaminya yang biasanya baik itu, tega menyakiti dan menamparnya pipinya hingga memerah dan sakit.  Sang ibu pergi ke hutan dengan hati yang remuk redam. Dari belakang,kedua anaknya mengikuti ibunya ke hutan, ternyata Sang ibu menuju sebuah batu yang bernama Atu Belah…”

Monolog : Didepan batu itu,sang ibu bernyanyi berkali-kali menggunakan bahasa Gayo “atu belah, atu bertangkup, nge sawah pejaying te masa dahulu” yang artinya  “batu belah batu bertangkup sudah tiba janji kita masa yang lalu …”

Narasi & Monolog : “… Ajaib, tidak lama kemudian batu itu pun terbelah dan terbuka.Sang ibu kemudian masuk ke dalam batu itu. Cuaca yang awalnya cerah, berubah menjadi gelap, petir menyambar-nyambar,angin berembus kencang,dan hujan yang lebat mengiringi  Atu Belah menelan Si Ibu smentara kedua anaknya menjerit, berteriak memanggil ibunya.”Ibu,jangan tinggalkan kami! Ibu…!  Ibu…. Saya dengan siapa … Ibu jangan tinggalkan saya .. Kedua Anak yang malang it uterus menjerit-njerit”.  Sang ibu sudah terlanjur masuk kedalam Atu Belah dengan perasaan sedih karena harus meningalkan anak-anak yang dicintainya, namun apa daya takdir sudah menentukan dan dia tidak bisa menolak.  Batu  Belah itupun tertutup,  yan  tersisa hanya tujuh helai rambut ibunya yang kemudian dijadikan anaknya sebagai jimat...
 

Narasi & Monolog : “…Tak lama kemudian, munculah sang Ayah, dengan terbata-bata, sang anak menjelaskan bahwa Ibunya masuk ditelan Batu Belah, karena sedih hatinya dimarahi Ayah. Dengan raut muka sedih Sang Ayah mendekap kedua anaknya sambil berkata “Maafkan istriku, aku berjanji akan merawat kedua anak kita tercinta agar kelak menjadi manusia berguna dan hidup berbahagia …”
 

Closing …
Pb Pembina/Bucik memutarkan sebuah lagu daerah Aceh yang bernuansa kesedihan dan kesyahduan.

Akhir Kegiatan :

  • Selesai lagu Kakak Pembina/ Bunda mengajak para Siaga bertepuk tangan untuk kembali mencairkan suasana.
  • Setelah suasana cair Kakak Pembina/Bunda dan Bucik memberi kesempatan setiap barung untuk memberikan tanggapan/penilaian terhadap tokoh cerita da nisi cerita, bisa dengan gambar, bisa dengan kalimat atau dengan berbagai cara mengungkapkan lainnya.
  • Bunda mengakhiri kegiatannya diongengnya dengan memberikan kesimpulan tentang kandungan nilai dan apa yang bisa diteladani, serta memberikan hadiah kepada tiap barung atas hasil tanggapannya yang sangat super.
Kegiatan selesai. 
Selamat Memandu.  Membahagiakan Siaga, Membahagiakan Indonesia

Lihat topik/entri terkait : 

Area Pengembangan Pramuka Siaga
Dongeng sebagai Media Latihan Pramuka Siaga
Panduan Teknik Mendongeng untuk Siaga.

Sumber :
Diadaptasi dari berbagai sumber  dan ditulis ulang untuk kepentingan “Ensiklopedia Pramuka”  (-aiw)

No comments:

Post a Comment