Showing posts with label F. Show all posts
Showing posts with label F. Show all posts

Thursday, 26 September 2013

Fotografi & Videografi Pramuka : Imaginary Line/Crossing Line/Rule of 180 Degree



Topik Imaginary Line/Crossing Line/Rule of 180 Degree  ini diperlukan terutama untuk pengambilan gambar berseri (foto seri) atau pengambilan adegan untuk sebuah film/video. Materi ini sangat penting agar gambar adegan yang diambil di lapangan yang biasanya diambil/di shot adega demi adegan dapat disambung di ruang editing sehingga menjadi gambar yang berurutan baik komposisi, size maupun penceritaannya.

Dalam pengambilan gambar saat produksi maka ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh Kamerawan. Prinsip tersebut antara lain adalah continuity of direction dan  continuity of action. Untuk menjamin kesinambungan / continuity dari arah pandang, arah gerakan dari object dalam frame, maka ditetapkan suatu garis sumbu / axis line/ imaginary line dari object-object.  Bila prinsip ini tidak diikuti maka akan menyulitkan saat editing (Pascaproduksi) serta  akan membinggungkan penonton  dalam menyaksikan suatu ceritera / program acara.

Garis ini ditarik / diambil dari arah pandang, arah jalan maupun  arah gerakan objek / orang.Bila melanggar / melompati garis sumbu / imaginary line/ crossing line akan menghasilkan  Jump ofScreen Directionsaat editing.

Dalam kenyataannya Imaginary Line atau Crossing Line atau garis Sumbu tidak pernah ada, namun harus diimajinasikan bahwa garis itu ada .Ketika Kamerawan dan Tim berada di lokasi Shooting maka yang harus diperhatikan  sebelum penem-patan kamera adalah :
  1. Tentukan  ImaginaryLine  dari arah pandang obyek/ orang atau arah gerakan orang atau kendaran.
  2. Tetapkan Imaginary Line dari arah pandang orang atau arah gerakan orang atau kendaran
  3. Kemudian pilih salah satu sisi, kiri atau kanan yang mudah dan menarik.
  4. Memilih posisi yang sesuai dengan arah sumber cahaya untuk memperoleh gambar yang terang dan jelas.
  5. Tempatkan Kamera (Camera blocking) pada sudut pandang yang menarik. (Kamera hanya berada dalam zona 180 derajat )

Bila kamerawan melewati Imaginary Line atau garis sumbu, maka hasil gambar akan tertilihat jumping atau melompat, karena arah pandang berubah tidak sesuai dengan sebelumya. Hal ini akan membuat penonton bingung untuk menikmati sajian acara tersebuit seperti wawancara. Gambar berikunta nya memperlihatkan Kamerawan melewati gari sumbu/imaginary Line.


Untuk menjamin kesinambungan arah gerakan dan arah pandang obyek saat editing, maka penepatan kamera oleh Kamerawan tidak boleh melewati Imaginary Line/Crossing line, tetap pada posisi 180 derajat.


CAMERA POSITION UNTUK OVER SHOULDER SHOT (OSS)



CAMERA POSITION UNTUK OBJECT DIRECTION DALAM RULE OF 180 DERAJAT




Gambar yang sama ketika diambil dengan posisi kamera yang berbeda maka akan menghasilkan arah gambar yang berbeda. Perhatikan posisi kamera dan hasil gambarnya.

Untuk menjamin kesinambungan arah gerakan dan arah pandang obyek saat editing, maka penepatan kamera oleh Kamerawan tidak boleh melewati Imaginary Line/Crossing line, tetap pada posisi 180 derajat. 

Selamat Berkarya. Salam Pramuka.


Lihat Entri/Topik Terkait
Fotografi & Videografi Pramuka :  Camera Angle
Fotografi & Videografi Pramuka : Teknik Pembingkaian Gambar (Framing)
Fotografi & Videografi Pramuka :  Komposisi Gambar

Sumber :
Komposisi Gambar  dalam Produksi Acara Televisi,  Hanoch Tahapary,  Kementrian Diknas, 2011.
Panduan Kerja Kamerawan Televisi,  Anis Ilahi Wh, Kementrian Diknas, 2012



Tuesday, 9 July 2013

Fotografi & Videografi Pramuka : Camera Angle




Pengertian

Untuk dapat menghasilkan gambar yang artistik dan komunikatif membutuhkan sudut penempatan kamera yang pas agar elemen-elemen visual yang akan dijadikan obyek visual dapat masuk dalam frame dengan baik. Sudut penempatan kamera atau sering disebut dengan  camera angle  merupakan faktor yang amat penting dalam membangun kesan psikologis, dramatic dan estetika sebuah gambar baik gambar lepas (fotografi) maupun gambar secara berkesinambungan/continuity (videografi) untuk menarik minat dan perhatian khalayak penonton.


Tujuan Camera Angle/Sudut Penempatan Kamera

Penempatan camera angle terhadap obyek yang akan difoto atau direkam sangat tergantung dari pesan-pesan apa yang ingin disampaikan kepadak halayak. Penempatan angle camera mempunyai beberapa tujuan yakni :

  1. Untuk memperoleh luas wilayah/area yang akan difoto/direkam.Untuk tujuan ini posisi penempatan kamera harus ditempatkan lebih jauh dan lebih tinggi tinggi dari obyek atau daerah yang akan difoto/direkam.(Lihat Gambar 1)
  2. Untuk menunjukan illusi kedalaman gambar diantara unsur-unsur gambar yang ada. Untuk tujuan ini maka kamera ditempatkan didepan latar depan /foreground. Dengan adanya latar depan/foreground maka terlihat illusi kedalaman antara foreground, middle ground/obyek utama dan background. (Lihat Gambar 2)
  3. Menentukan titik pandang mata penonton untuk menyaksikan suatu foto/ gambar rangkaian adegan sebuah program acara video. Misalnya : bila kamera mengambil gambar dari atas, berarti penonton diajak untuk melihat dari atas ke bawah dan sebaliknya. (Lihat Gambar 3)



Jenis/Tipe Camera Angle

Dalam videografi khususnya produksi acara televisi/film  penentuan dan penempaan camera angle sangat mempengaruhi perhatian penonton dalam menyaksikan suatu acara, sekaligus melibatkan mereka baik sebagai penonton maupun sebagai pelaku dalam cerita. Hal yang sama juga bisa dilakukan ketika mengambil sebuah foto. Jenis  camera angle ada dua, yaitu :

  1. Objective Camera Angle  :Banyak digunakan untuk pengambilan gambar pada acara di televisi seperti musik, kuiz atau olaharaga dengan cara menempatkan kamera  di posisi penonton yang sedang menyaksikan acara tersebut. Kamera seolah-olah mewakili penonton  yang sedang melakukan observasi atau menonton acara tersebut. Penempatan kamera dan pengambilan gambar semacam itu menghasilkan gambar yang disebut  objective shot. Kesan psikologisnya  adalah penonton hanya sebagai seorang observer atau pengamat.(Lihat Gambar 1)
  2. Subjective Camera Angle :Subjective camera angle sering digunakan pada acara drama, film cerita, featur, dokumenter, dokudrama atau olahraga seperti balap mobil, dan lain-lain. Teknik ini dilakukan dengan cara menempatkan kameran pada posisi pemain atau pelaku yang sedang beraksi dalam sebah adegan/peristiwa. Kamera  menggambarkan seolah-olah mewakili titik pandang seorang pemain yang sedang melakukan  akting atau  mewakili titik pandang mata pelaku. Gambar hasil pengambilan  seperti ini disebut dengan  subjective Shot.  Kesan psikologisnya adalah bahwa penonton ikut terlibat sebagai seorang pemain yang sedang berakting dalam acara tersebut. Subjective shot dapat dikatakan juga sebagai point of  view (POV) seseorang. (Lihat Gambar 2)
Faktor-faktor yang Menentukan Camera Angle
Faktor Ukuran Obyek
Dalam menentukan seberapa  banyak dan seberapa besar ukuran dari obyek di lokasi shooting yang akan ditampilkan kedalam frame/bingkai sangat tergantung dari beberapa faktor yaitu :
  1. Jarak antara kamera dengan obyek tersebut,
  2. Jenis lensa  yang digunakan,
  3. Ukuran Shot (Shot Size) yang diinginkan,
  4. Pesan yang akan disampaikan, dan makna psikologis yang akan dibangun. 
Faktor Ukuran Gambar
Secara umum terdapat tiga ukuran pengambilan gambar yakni : longshot, medium shot dan close up.

A. Long shot
Pengambilan gambar dari jarak jauh, obyek/unsur gambar  terlihat banyak, namun ukurannya kecil. Penggunaan Long Shot adalah untuk menampilkan atau memperlihatkan :
  1. Panorama alam / Landscape suatu tempat
  2. Lokasi /tempat berlangsung suatu peristiwa
  3. Orang sedang Berolahraga, sepakbola, tenis, golf,  dll
  4. Orang sedang berjalan atau berlari 
  5. Group suatu kelompok – Group Shot

 B. Medium shot
Pengambilan gambar dari jarak menengah, obyek/unsur gambar terlihat berkurang, namun ukurannya mulai besar. Penggunaan Medium Shot adalah untuk menampilkan/memperlihatkan :
  1. Orang/Pemain  yang sedang beraktivitas
  2. Orang sedang berdialog/ wawancara di suatu lokasi Kejadian
  3. Orang dan lokasi aktivitas/kegiatan  secara seimbang.
  4. Laporan Reporter TV / Presenter TV /Stand Upper dari suatu lokasi 
 
C.  Close shot
Pengambilan gambar dari jarakdekat, obyek/unsur  gambar terlihat sedikit, namun ukurannya besar. Penggunaan Close Shot adalah untuk menampilkan atau menunjukan :
  1. Expressi Orang/Pemain 
  2. Orang/Pemain sedang berdialog, wawancara 
  3. Detil dari suatu benda pada orang 
  4. Benda-benda berukuran  kecil  (Perhiasan,binatang, bunga,dll).


Type of Shot Size untuk Pengembilan Obyek Berupa Manusia/Pemain

Ukuran pengambilan gambar,   lebih merujuk dan diarahkan kepada bagian-bagian tubuh orang atau pemain. Oleh karena itu dari ketiga ukuran pengambilan gambar tadi yakni long shot, medium shot dan close shot  di bagi lebih detil lagi sesuai bagian tubuh yang akan ditampilkan.  Secara umum terdapat sembilan (9) ukuran pengambilan gambar (Type of Shot Size) bagi orang atau pemain yang harus diperhatikan oleh seorang kamerawan dalam mebingkai orang.
  • Extreme Close Up (XCU) :Pengambilan gambar dari dekat yang menampilkan bagian terkecil dari suatu benda atau orang, misalnya : mata, hidung, mulut, atau telinga pada orang/pemain.
  • Big Close Up  (BCU)  : Pengambilan gambar dari dekat yang menam-pilkan bagian kepala, dari leher/bahu hingga kepala orang atau pemain. (disebut juga dengan Head Shot).
  • Close Up (CU) : Pengambilan gambar yang menampilkan bagian dada atau ketiak orang/pemain sampai di kepala (sudah ada Head room).
  • Medium Close Up (MCU) : Pengambilangambar yang menampilkan bagian bawah dada atau atas siku orang/pemain sampai di kepala (sudah ada Head room)Medium Close  Up  : Merupakan Standard Shot  untuk  pengambilan gambar saat stand up Reporter, Presenter dan wawancara di Televisi .

  • Medium Shot (MS) : Pengambilan gambar yang menampilkan    bagian pinggang atau pinggul orang/pemain sampai di kepala.
  • Knee Shot (KS), ¾ Shot : Pengambilangambar yang menampilkan  bagian lutut orang/pemain sampai di kepala. (Shot ini juga disebut medium long shot/MLS)
  • Full Shot (FS) / Full Body Shot :  Pengambilangambar yang menampilkan  keseluruhantubuh orang/pemain. Seluruh tubuh orang/pemain terlihat baik berdiri maupun duduk. Ada juga yang  menyebut  Full Body Shot (FBS)
  • Long Shot (LS) : Pengambilan gambar yang menampilkan lokasi orang/pemainberada, tinggi orang/pemain 2/3 atau ½  tinggi layar, unsur-unsur gambar di lokasi dominan. 
  • Extreme Long Shot  (XLS) : Pengambilan gambar dari jauh, orang / pemain sangat kecil (1/4,1/5 dst dari tinggi frame), lokasi atau tempat peristiwa sangat dominan.


Perspektif Obyek/Perspective Object

Setiap unsur-unsur gambar/object memiliki tiga perspective/dimensiyakni tinggi, lebar dan dalam. Dalam pengambilan gambar sebaiknya minimum menampilkan dua perspective kalau hanya satu perspective akan tampak datar atau flat. Untuk mendapatkan perspektif obyek yang sesuai, maka posisi penempatan kamera harus diperhatikan (camera position), apakah kamera harus ditempatkan di depan, samping kiri, samping kanan, atau di atas obyek. 

  1. One Point Perspective :  Hanya bagian depan gedung yang tampak.Kamera ditempatkan pada posisi bagian depan dari obyek
  2. Two Point Perspective : Bagian depan dan samping gedung tampak. Kamera ditempatkan pada posisi bagian samping kiri atau kanan kurang lebih 45 derajat di depan obyek.
  3. Three Point Perspective : Bagian depan, samping dan atas gedung tampak. Kamera ditempatkan pada posisi bagian samping kiri atau kanan kurang lebih 45 derajat depan dan tinggi di atas obyek.

Perspektif Orang/dimensi Orang/Pemain
Berkatian dengan perspektif orang sebagai obyek yang akan diambil  maka posisi penempatan kamera harus diperhatikan. Untuk memperoleh kesan dua dimensi/perspective , maka secara umum terdapat lima posisi penempatan kamera dalam pengambilan perspektif obyek, khususnya orang/pemain, seperti :

  1. Frontal Position : Menghasilkan One Perspective – Full face Shot
  2. Front Middle Left Side Position : Menghasilkan Two Perspective - ¾ full face Shot.
  3. Left Side Position : Menghasilkan One  Perspective – Profile Face Shot.
  4. Front Middle Right Position : Menghasilkan Two Perspective - ¾ full face Shot.
  5. Right Side Postion : Menghasilkan One Perspective – Profile face Shot.


 
Tinggi Kamera/Camera Height  
Kesan artistik dan dramatik dapat diciptakan melalui penataan tinggi kamera terhadap object/orang/pemain. Umumnya  terdapat tiga golongan ketinggian  Kamera yaitu :  eye level/normal level,  high angle, low angle

  1. High Angle (menghasilkan High Angle Shot) : Dalam pegambilan gambar, kamera ditempatkan lebih tinggi dariobyek/orang. Hasil pada gambar menunjukkan orang terlihat pendek dan kecil.Makna psikologis dari gambar orang tersebut adalah lemah, rendah dan inferior.
  2. Level / Eye Level (menghasilkan Level/Normal Shot) : Dalam pegambilan gambar, kamera ditempatkan lebih sama tinggi dengan  obyek/orang (Posisi Lensa sejajar dengan mata orang). Hasil pada gambar menunjukkan orang terlihat  wajar apaadanya. Makna psikologis dari orang tersebut adalah sejajar, setara, normal tidak inferior maupun superior).
  3. Low Angle (menghasilkan Low Angle Shot) : Dalam pegambilan gambar, kamera ditempatkan lebih rendah dari obyek/orang. Hasil pada gambar menunjukkan orang terlihat  tinggi dan besarl.Makna psikologis dari orang tersebut adalah kuat, dominan, dan superior.


Spesial Camera Angle
  1. Aerial Shot : Pengambilan gambar dari udara, kamera ditempatkan pada pesawat udara, helikopter atau penyangga Jib.
  2. Canted Angle Shot/Crazy Shot: Saat pengambilan gambar, kamera miring ke kiri atau kekanan. Biasanya dipakai untuk acaramusik dengantarget audience kaum remaja.
  3. Bird Eye Shot :Dalam pengambilan gambar, kamera diletakkan di tempat yang tinggi seperti di tribuan atas sadion, atas gedung atau menggunanakan kamera supporting Crane atau Jib.
  4. Ground   Shot (Disebut Juga Frog Eye Shot) :Dalam pengambilan gambar,kamera diletakkan di tanah/lantai tanpa menggunakan penyangga kamera seperti tripod.

Selamat Berkarya. Salam Pramuka

Lihat entri/topik terkait  
  1. Fotografi & Videografi Pramuka :Komposisi Gambar
  2. Fotografi & Videografi Pramuka : Teknik Pembingkaian Gambar (Framing)
  3. Fotografi & Videografi Pramuka :  Camera Angle
  4. Fotografi & Videografi Pramuka : Imaginary line/crossing line/rule of 180 degre
Sumber :
Komposisi Gambar  dalam Produksi Acara Televisi,  Hanoch Tahapary,  Kementrian Diknas, 2011.
Panduan Kerja Kamerawan Televisi,  Anis Ilahi Wh, Kementrian Diknas, 2012







Sunday, 7 July 2013

Fotografi & Videografi Pramuka : Teknik Pembingkaian Gambar (Framing)



Pengertian

FRAMING / PEMBINGKAIAN  merupakan  proses penentuan untuk penempatan se-berapa banyak unsur-unsur gambar harus dimasukan ke dalam frame (bingkai gambar), seperti apa komposisinya, seberapa besar ukuranya  dan bagaimana pengelompokannya. Framing yang tepat akan menghasilkan gambar yang tidak saja artistik tetapi juga komunikatif dan memiliki visual efect yang mendalam bagi orang yang melihatnya.  Adakalanya obyek pengambilan gambar yang bagus namun karena framingnya tidak tepat gambar yang dihasilkannya tidak bagus. Sebaliknya obyek gambar yang tampak mata kurang bagus namun karena framingnya tepat gambar yang dihasilkannya menjadi bagus.


Framing Berdasar Ruang

Headroom
Penempatan ruang kosong di atas kepala atau ruang kosong di atas obyek sehingga antara obyek dan batas frame atas menjadi serasi dan seimbang.

Gambar 1 : sebuah gambar dengan head room yang tepat.
Sedangkan Gambar 2 menunjukan sebuah gambar dengan head room yang terlalu luas 
sehingga komposisinya menjadi tampak tidak normal


Nose Room atau Looking Room
Bila akan menggambarkan seseorang melihat ke lawan bicara atau keluar frame  maka harus ditunjukkan ruang arah pandang dari orang tersebut. Ruang arah pandang ini merupakan ruang kosong antara wajah atau hidung orang/pemain dengan pinggir kiri atau kanan frame tergantung arah orang melihat. Ruang arah pandang orang/pemain ini juga disebut Nose Room  atau Looking Room.

Gambar 1 dan 2 menunjukan sebuah gambar dengan noose room atau looking room 
yang proporsional sehingga tampak artistik dan komunikatif.
Gambar 3 menunjukan sebuah gambar dengan noose room atau looking room 
yang sempit dibanding bagian belakang sehingga gambar tampak tidak proporsional.


Walking Room  atau Lead Room
Apabila aka menggambarkan seorang pemain atau kelompok orang sedang berjalan menuju suatu arah, maka haruslah ditunjukkan ruang arah berjalan. Ruang arah berjalan ini merupakan ruang kosong antara orang/pemain atau kelompok orang dengan pinggir kiri atau kanan frame tergantung arah orang berjalan. Ruang arah berjalan orang/pemain ini juga disebut Walking Room  atau Lead Room.

 Dua contoh gambar yang menunjukan walking room yang sangat baik 
sehingga gambar tampak artistik dan komunikatif



Framing berdasar Pengelompokan Obyek/Object Grouping

Pengelompokan  segitiga/ Triangle Grouping
Obyek-obyek yang lebih dari satu  dan diposisikan/ditempatkan pada frame dengan membentuk kurva segitiga . Titik pojok dari  pengelompokkan segitiga tersebut merupakan interest point dari obyek yang menarik perhatian penonton.  Untuk  menghasilkan bentuk kurva segitiga maka pengaturan penempatan posisi,  sudut, jarak, dan tinggi kamera  harus betul-betul diperhatikan.  




Beberapa contoh gambar 
dengan teknik pengambilan pengelompokan segitiga.

Pengelompokan  latardepan dan latarbelakang/ Foreground and Back-ground Grouping :
Obyek-obyek utama yang akan diambil  ditempatkan ditengah-tengah frame sedangkan latar depan yang berada di depan obyek tersebut ditempatkan di bagian atas – bawah, kiri – kanan frame. Dengan demikian terdapat illusi ke dalam gambar dari latar depan ke obyek utama sebagai middleground dan latar belakang.   Untuk menghasilkan gambar/foto semacam ini maka  posisi kamera,  sudut kamera , jarak, dan tinggi kamera  harus disesuaikan dengan pengelompokan yang diinginkan .

 Perhatikan komposisi antara latar depan dan latar belakang 
yang bisa saling mendukung. Posisi latar depan yang tepat 
akan memberikan kesan adanya kedalaman gambar.

Dalam foreground and background grouping, pengambilan gambar dua orang atau pemain yang sedang berbicara  dari belakang dan di atas bahu salah satu pemain disebut  juga dengan nama Over Shoulder Shot (OSS) .


Ketika mengambil overshouder Shot  kamera diletakkan di belakang dan setinggi pundak/bahu salah satu orang/pemain  sehingga  di dalam frame terdapat obyek yang menghadap sedikit serong dari kamera karena obyek sedang menghadap lawan bicaranya sebagai foreground, sebaliknya atau shot berikutnya  shot yang sama. Perpindahan dari posisi pertama (A) ke posisi kedua (C) disebut dengan nama reverse camera angle.

Pengelompokkan Simteris dan Nonsimetris/Symetric and Asymetric Grouping :
Sama halnya, jika kamera mengambil orang atau benda lainnya, seperti misalnya jika mengambil semua perabot/furnitur menumpuk di satu sisi ruang tamu, tentu hal ini akan menimbulkan kesan  yang tidak seimbang dan mengurangi nilai estetika-nya . Sebaiknya perabot-perabot tersebut ditata secara  seimbang untuk mendapat-kan kesan seimbang dan estetika. Obyek-obyek yang akan diambil hendaknya ditempatkan  secara seimbang dengan frame, namun obyek yang sangat menarik tentu akan mendapatkan perhatian utama kamerawan termasuk penonton. Pengelompokkan obyek akan menjadi tidak seimbang  apabila ada salah satu obyek yang mau ditonjolkan. Dengan demikian terdapat keseimbangan unsur-unsur gambar, baik secara horizontal maupun vertikal.


Contoh obyek gambar yang sama yang bisa diambil 
dengan sudut pandang simetris dan juga sudut pandang asimetris.

Pengelompokkan obyek akan menjadi tidak seimbang  apabila ada salah satu obyek yang mau ditonjolkan. Dengan demikian terdapat keseimbangan unsur-unsur gambar, baik secara horizontal maupun vertikal.

  
Contoh gambar yang diambil dengan framing symetric vertikal grouping.
 Perhatikan daun dan batang bunga yang membentuk garis-garis vertikal yang sangat artistik.

Kamerawan hendaknya melihat dan mengatur posisi kamera,  sudut kamera , jarak, dan tinggi kamera  untuk dapat mengambil gambar berdasar pengelompokkan obyek-obyek tersebut . Pengelompokan obyek  berlaku baik horizontal balance maupun vertical balance. Idealnya adalah kedua sumbu tersebut  simetris atau seimbang.
 Dua contoh  gambar yang diambil dengan framing symetric horizontal  grouping.
 Perhatikan kesejajaran antara kedua obyek yang terletak di kanan - kirin frame
 yang membentuk sebuah garis horizontal


Pengelompokan berdasar Bentuk Garis dan Kurva / Line& CurveForm:
Kalau kita melihat sebuah  gambar di majalah, surat khabar, foto, film dan,  televisi, mata akan sering tertuju melihat garis-garis yang ada, baik berupa garis lurus horizontal, vertikal , diagonal maupun garis-garis lengkung berbentuk kurva seperti kurva S. Garis-garis ini biasanya untuk menghubungkan suatu obyek dengan obyek lainnya, selain itu garis juga penting untuk menuntun mata kita termasuk penonton untuk selalu bergerak menuju kearah obyek yang menarik (Interest Point of Object).

 Contoh gambar yang menunjukan komposisi garis horizontal dan vertikal 
dalam sebuah perpaduan background foreground yang artistik dan komunikatif.

 Garis-garis juga mempunyai bermacam-macam makna  dalam meng-expresikan hal-hal yang terjadi dan dialami oleh seseorang atau pemain dalam menjalani aktivitas kehidupannya termasuk benda-benda lainnya. Beberapa makna psikologis garis, baik garis lurus maupun garis melengkung yakni :

  • Garis lurus vertikal menunjukkan martabat, kekuatan, kekuasaan, formalitas, tinggi. 
  • Garis horisontal menunjukkan stabilitas dan keterbukaan.Garis diagonal dapat memberi tampilan yang dinamis dan menarik.
  Contoh gambar  dengan memanfaatkan obyek sebagai garis diagonal 
untuk menghasilkan komposisi yang menarik. Perhatikan arah pagar dan arah jalan 
pada gambar pertama. Juga perhatikan arah bangunan di tepi pantai yang
 juga membentuk garis diagonal.



 Contoh gambar  dengan memanfaatkan obyek sebagai garis diagonal  
sekaligus garis horizontal. Perhatikan arah jajaran bukit yang membentuk garis horizontal
 dan arah jembatan menuju bangunan di tengah laut yang membentuk garis diagonal 
pada gambar pertama. Perhatikan pula apa yang terjadi pada gambar dua.


  • Garis melengkung, berupa  garis Kurva S menunjukkan kasih karunia, keindahan, keanggunan, gerakan, dan sensualitas. Kurva S sangat efektif dalam membimbing dan mengarahkan mata penonton ke pusat perhatian obyek (Interest point of Object) di suatu lokasi.
Contoh gambar yang diambil dengan komposisi Kurva S.


Object in Frame/Menempatkan Orang dalam Frame

Diantara  unsur-unsur gambar yang ada dalam Frame / bingkai, maka orang / pemain  merupakan  unsure   gambar utama, mulia, dan selalu  menjadi pusat perhatian penonton  (Point of Viewer Attention). Oleh karena itu pengaturan dan penempatan orang dalam Frame / bingkai  harus mendapat perhatian khusus  oleh Sutradara dan Juru Kamera.

Bila dalam pengambilan gambar terdapat satu orang yang sedang melakukan aktifitas dalam frame/bingkai , maka ini disebut one Shot. Istilah ini mengacu kepada jumlah orang  dengan mengabaikan ukuran Shot size dari obyek misalnya long Shot, medium atau close Shot.

Berikutnya kalau terdapat  dua orang sedang melakukan aktifitas dalam frame/bingkai  maka ini disebut  two Shot. Selanjutnya  bila terdapat tiga orang dalam frame/bingkai maka ini disebut three Shot. Sedangkan bila terdapat empat orang atau lebih dalam frame/bingkai, maka ini disebut group Shot.

Contoh beberapa gambar cara menempatkan orang dalam sebuah frame


Framing yang Harus Dihindari

Dimensional Merger : 
Bila kita mengambil gambar orang atau pemain disuatu lokasi, maka harus diperhatikan latar belakang/background dari orang tersebut.  Dimensional Merger adalah bergabungnya obyek pada latar belakang yang seolah-olah muncul dari kepala atau telinga orang. Kalau menjumpai hal seperti itu, maka posisi pemain dirubah bergeser kekiri atau kekanan dari latar belakang tersebut. Namun kalau sulit bergeser , maka posisi kamera yang bergeser kekiri atau kekanan.


Pada gambar di atas, terlihat seakan-akan ada sesuatu benda yang muncul dari kepala atau telinga orang/pemain.  Kamerawan harus menghindari gambar latar belakang (background) yang ada dibelakang orang/pemain yang akan diambil gambarnya.  Ada dua cara menghindari Dimensional merger, yakni posisi kamera ditempatkan/berpindah ke sebelah kiri atau kanan background tersebut  atau cara kedua meminta orang tersebut bergesar kekiri atau kekanan dari background.

Tonal Merger : 
Bila kita mengambil gambar orang atau  benda lainnya disuatu lokasi  maka harus diperhatikan warna tempat atau latar belakang/background dari orang tersebut.  Tonal Merger adalah bergabung warna obyek utama dengan tempat atau  latar belakang . Hal ini akan sulit mengenal  obyek utama  karena warnanya menyatu dengan warna dengan warna di lokasi atau warna-warna  latar belakang.

 
Pada  contoh tonal merger di atas, Obyek utama (kupu-kupu berwarna kuning) menyatu dengan tempat ia hinggap (kembang berwarna kuning), sehingga kupu- kupu tidak terlihat dengan  jelas. Seorang kamerawan harus selalu memperhatikan warna dari obyek maupun latar belakangnya. Bila orang memakai baju putih, hindari latar belakang yang putih, begitu pula bila orang memakai baju hitam hindari latar belakang yang berwarna hitam karena akan sulit untuk  melihat obyek tersebut dengan jelas.

Selamat Berkarya. Salam Pramuka


Lihat entri/topik terkait 
  1. Fotografi & Videografi Pramuka :Komposisi Gambar
  2. Fotogafi & Videografi Pramuka : Camera Angle (Sudut Kamera) 
  3.  Fotografi & Videografi Pramuka :  Camera Angle
  4. Fotografi & Videografi Pramuka : Imaginary line/crossing line/rule of 180 degre

Sumber :
Komposisi Gambar  dalam Produksi Acara Televisi,  Hanoch Tahapary,  Kementrian Diknas, 2011.
Panduan Kerja Kamerawan Televisi,  Anis Ilahi Wh, Kementrian Diknas, 2012